Royal Golden Eagle

Unit Bisnis Royal Golden Eagle Menjaga Kemitraan Dengan Petani Plasma

Royal Golden Eagle (RGE) selalu berusaha memberi manfaat kepada pihak lain. Hal tersebut dijalankan dengan baik oleh Asian Agri. Unit bisnis RGE yang bergerak di industri kelapa sawit ini mampu menjaga kemitraan dengan para petani plasma.

Lahir dengan nama Raja Garuda Mas pada 1973, RGE merupakan induk perusahaan Asian Agri. Mereka merupakan korporasi kelas internasional yang membawahi sejumlah perusahaan di bidang pemanfaatan sumber daya.

Selain Asian Agri, mereka juga memiliki unit-unit bisnis lain. Mereka bergerak di sektor berbeda-beda mulai dari pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta minyak dan gas. Unit-unit bisnis tersebut tersebar di Indonesia, Tiongkok, Brasil, Kanada, serta Spanyol.

Skala bisnis Royal Golden Eagle yang besar tergambar dari asetnya yang mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat. Selain itu, mereka pun mempekerjakan setidaknya 60 ribu orang karyawan.

Asian Agri merupakan unit bisnisnya yang berdiri pada 1979. Mengelola lahan perkebunan seluas 160 ribu hektare, mereka merupakan salah satu pemain penting di industri kelapa sawit di Asia. Per tahun, Asian Agri mampu menembus kapasitas produksi satu juta ton crude palm oil.

Keberadaan Asian Agri memberikan manfaat bagi para petani kelapa sawit, khususnya petani plasma. Mereka mampu menjadi “inti” yang mendukung perkembangan petani kecil.

Perlu diketahui, dalam industri kelapa sawit dikenal konsep plasma inti. Ini adalah upaya dari Pemerintah Indonesia untuk menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan para petani kecil.

Nanti, pihak swasta seperti Asian Agri bertindak sebagai “inti” yang mendukung petani kecil sebagai “plasma”. Mereka menyiapkan infrastruktur yang mendukung perkebunan seperti pembuatan jalan dan jembatan. Mereka juga membantu petani plasmanya dalam segala hal tentang pertanian. Sebagai contoh, perusahaan induk akan menyuplai bibit, pupuk, pestisida, hingga melatih cara berkebun kelapa sawit yang tepat.

Sebaliknya, sebagai plasma, para petani mendapat kepastian penjualan buah kelapa sawit yang ditanam. Hasil panen mereka akan dibeli oleh Asian Agri dengan harga yang sesuai dengan standar dan patokan pemerintah.

Program ini mulai muncul pada era 1980-an dan dikenal sebagai Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Trans. Pasalnya, pemerintah memanfaatkan program PIR Trans untuk memeratakan populasi penduduk di Indonesia. Mereka menggalakkan program transmigrasi. Petani difasilitasi untuk mau pindah ke luar Pulau Jawa ke beberapa pulau lain di Indonesia seperti Sumatra dan Kalimantan.

Asian Agri termasuk salah satu perintis program PIR-Trans. Mereka telah memulainya sejak 1987. Kala itu, mereka mendampingi para petani transmigran untuk berkebun kelapa sawit.

Hal itu sangat vital bagi kehidupan para petani. Sebab, pindah ke daerah lain, mereka harus bisa secepatnya mandiri. Dalam hal itulah Asian Agri hadir. Unit bisnis Royal Golden Eagle ini melatih para transmigran yang menjadi plasmanya dalam menjadi petani kelapa sawit. Lagi-lagi ini begitu krusial. Pasalnya, para transmigran semula tidak tahu sama sekali tentang cara berkebun kelapa sawit.

Namun, berkat dukungan Asian Agri, para petani plasma tersebut mampu berkembang. Dari tidak paham sama sekali, kini para petani plasma sangat menguasai tata cara perkebunan kelapa sawit. Hal itu sangat berguna karena produktivitas perkebunannya selalu meningkat.

Tak heran, semakin lama, program inti plasma Asian Agri berkembang pesat. Dari mulanya hanya mencakup lahan sekitar 2.700 hektare, sekarang 60 ribu hektare lahan Asian Agri dikelola oleh petani plasma. Pada akhirnya, program ini mampu menjangkau sekitar 30 ribu keluarga yang tersebar di sebelas kebun.

 

KERJA SAMA TERUS BERLANJUT

Dalam menjalankan program inti plasma, Asian Agri sangat serius. Unit bisnis Royal Golden Eagle ini melakukannya dengan pengorganisasian yang rapi. Contoh nyata mereka menyiapkan tim yang terdiri dari General Manager, Manajer, dan Asisten Manajer untuk memberikan bantuan teknis dan pelatihan lapangan bagi petani plasma.

Dalam pendampingan yang dilakukan, Asian Agri juga mengajari para petani sistem perkebunan berkelanjutan. Hal ini amat vital. Sebab, pasar global mewajibkan produk kelapa sawit yang dijual berasal dari sistem produksi yang ramah terhadap alam. Tanpa itu, produk tidak akan diterima.

Asian Agri tekun mendampingi petani plasma supaya bisa mempraktikkan perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, mereka mendampingi petani untuk memperoleh sertifikat tanda praktik berkelanjutan seperti Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO), International Sustainability & Carbon Certification (ISCC), serta Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Berkat itu, para petani mampu menjual hasil perkebunannya ke pasar internasional. Tentu saja itu sangat penting bagi kesejahteraan mereka. Terlebih Asian Agri selalu memberikan “bonus” berupa premi sawit. Ini adalah insentif yang diberikan kepada petani plasma dari hasil penjualan kelapa sawit berkelanjutan di pasar global.

Bentuk premi sawit berupa dukungan dana yang disalurkan melalui koperasi-koperasi tempat petani bernaung. Nanti hasilnya bisa dipakai untuk kepentingan bersama seperti pembuatan infrastruktur atau persiapan masa peremajaan perkebunan.

Sejak 2013, Asian Agri rutin membagikan premi sawit per tahun. Terakhir mereka mengucurkan dana hingga Rp3,6 miliar untuk para petani plasmanya pada April 2018.

Beragam dukungan tersebut terus dilakukan oleh Asian Agri. Unit bisnis Royal Golden Eagle ini menjamin tetap berkomitmen untuk mendampingi petani plasma. Hal itu kembali ditegaskan oleh mereka pada Mei 2018 lalu.

“Pengembangan kapasitas petani harus kami terus lakukan. Sebab, para petani adalah penentu keberhasilan industri kelapa sawit Indonesia. Oleh karenanya, Asian Agri merasa berkewajiban untuk selalu membantu meningkatkan kemampuan petani agar kualitas kelapa sawit yang dihasilkan sesuai dengan standar pasar,” tegas Direktur Corporate Affair Asian Agri, Muhammad Fadhil Hasan di Waspada.co.id.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Asian Agri tidak akan pernah menghentikan kemitraan dengan petani plasma. Bahkan, mereka malah semakin mengeratkan hubungan yang sudah terjalin.

Bersamaan dengan itu, Asian Agri juga memperluas jangkauan kerja sama dengan para petani swadaya. Mereka terus meningkatkan kemitraan. Ditargetkan pada 2018 sudah akan ada lahan seluas 40 ribu hektare yang tercakup ke dalam kerja sama tersebut.

Asian Agri melakukannya karena memiliki target yang disebut One to One. Di sini mereka ingin menyamakan lahan perkebunan yang dikelolanya sendiri dengan yang dikelola oleh para petani.

Komitmen Asian Agri rupanya mendapat perhatian tersendiri dari pemerintah Indonesia. Mereka mengapresiasi konsistensi unit bisnis dari RGE ini dalam menjalankan kemitraan dengan para petani. Sebab, relasi tersebut akan membantu mengangkat kemampuan industri kelapa sawit nasional.

“Hubungan antara Asian Agri dan petani kecil akan meningkatkan kualitas minyak kelapa sawit dari Indonesia. Berkat upaya membantu para petani plasma dalam memperoleh sertifikasi internasional, kami menunjukkan komitmen serius kami dalam mengembangkan sektor agribisnis berkelanjutan di Indonesia,” kata Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita, di Republika.com.

Apresiasi yang diberikan oleh pemerintah bakal menjadi penambah semangat Asian Agri. Unit bisnis  Royal Golden Eagle ini bakal terus menjaga kemitraan yang sudah dijalankan dengan petani plasma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *